Minggu, 11 Oktober 2009

Kebudayaan Suku Jawa

Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas rampungnya makalah ini. karena dengan rahmatNyalah saya dapat menyelesaikan majalah ini dengan semaksimal mungkin.
Kebudayaan yang akan saya bahas secara terperinci dalam makalah ini adalah kebudayaan Suku Jawa. Karena, menurut saya, Suku Jawa adalah salah satu suku yang memiliki kekayaan budaya yang melimpah ruah dan patut menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Tentunya saya selaku penyusum makalah ini juga sangat bangga dengan kekayaan yang dimiliki suku jawa itu sendiri. Dalam makalah ini saya juga akan membahas tentang informasi lengkap Kebudayaan Jawa dan tak lupa juga saya definisikan kebudayaan jawa secara definisi kebudayaan dan definisis masyarakat secara etimologis, konseptual, dan operasional.
Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada dosen Cultural Anthropology, Dr. Tutil Dwiwinarni. MM. karena atas dukungan dan bimbingan beliau, saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar.
Tentunya tidak ada manusia satupun di dunia ini yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Prinsip itulah yang selalu saya junjung tinggi, maka dari itu saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan yang saya lakukan baik sengaja maupun tidak, dan saya juga mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Jakarta, 3 Febuari 2009
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………………….1
Daftar Isi…………………………………………………………………………………..2
Bab I Pendahuluan………………………………………………………………………4
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………..4
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………….4
1.3 Tujuan………………………………………………………………………...4
Bab II Kerangka Teoritis……………………………………………………………….6
2.1 Definisi Kebudayaan………………………………………………………….6
2.1.1 Definisi kebudayaan secara etimologis…………………………………6
2.1.2 Definisi kebudayaan secara konseptual…………………………………6
2.1.3 Definisi kebudayaan secara operasional………………………………...7
2.1.4 Instrumen variabel konsep teori kebudayaan…………………………...7
2.2 Definisi Masyarakat…………………………………………………………...8
2.2.1 Definisi masyarakat secara etimologis………………………………….8
2.2.2 Definisi masyarakat secara konseptual………………………………….8
2.2.3 Definisi masyarakat secara operasional…………………………………9
2.2.4 Instrumen variabel konsep teori masyarakat…………………………..10
Bab III Analisis dan Pembahasan……………………………………………………..11
3.1 Bahasa Kebudayaan Jawa…………………………………………………….11
3.2 Sistem Teknologi dan Alat Produksi Kebudayaan Jawa……………………...11
3.3 Sistem Mata Pencaharian Kebudayaan Jawa…………………………………14
3.4 Organisasi Sosial Kebudayaan Jawa………………………………………….14
3.5 Sistem Pengetahuan Kebudayaan Jawa ………………………………………15
3.6 Sistem Religi Kebudayaan Jawa……………………………………………..15
3.7 Kesenian Kebudayaan Jawa………………………………………………….15
Bab IV Penutup………………………………………………………………………...19
4.1 Kesimpulan………………………………………………………………….19
4.2 Saran…………………………………………………………………………19
Daftar Pustaka………………………………………………………………………….20






Bab I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebudayaan jawa sudah ada setelah abad ke 1 masehi dan apabila kita lihat dari 7 unsur kebudayaan secara universal, maka dapat kita rumuskan bahwa kebudayaan Jawa memiliki banyak unsure-unusr budaya. Dimulai dari system mata pencaharian, masyarakat Jawa juga memilki sector pariwisata yang luas. Tidak sedikit dari wisatawan dan para turis mancanegara yang datang untuk melihat kekayaan budaya Jawa. Kebudayaan Jawa juga bergerak di bidang pertanian dan perikanan. Selain itu, kebudayaan Jwa juga memiliki nilai seni yang begitu tinggi, dimulai dari alat-alat music tradisonal hingga tari-tarian tradisonal.


1.2 Rumusan Masalah
Atas dasar latar belakang yang telah saya sebutkan di atas, maka saya dapat merumuskan masalahnya sebagai berikut: “Bagaimana penerapan 7 unsur kebudayaan secara universal pada kebudayaan Jawa?”

1.3Tujuan
Sehubungan dengan perumusan masalah yang tercantum di atas, maka dapat saya jabrkan tujuannya sebagai berikut :
1. Mengetahui dan menganalisis bahasa pada kebudayaan Jawa
2. Mengetahui dan menganalisis sistem teknologi dan alat produksi pada kebudayaan Jawa
3. Mengetahui dan menganalisis sistem mata pencaharian pada kebudayaan Jawa
4. Mengetahui dan menganalisis organisasi sosial pada kebudayaan Jawa
5. Mengetahui dan menganalisis sistem pengetahuan pada kebudayaan Jawa
6. Mengetahui dan menganalisis sistem religi pada kebudayaan Jawa
7. Mengetahui dan menganalisis kesenian pada kebudayan Jawa


Bab II
KERANGKA TEORITIS
2.1 Teori Kebudayaan
2.1.1 Definisi kebudayaan secara etimologis
Kata kebudayaan berasal dari kata Buddhayah dalam bahasa Sansekerta, yaitu bentuk jamak dari Buddhi yang berarti budi atau akal. Kata culture berasal dari bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kebudayaan. Kebudayaan juga berasal dari bahasa Latin yaitu kata Colere yang artinya mengolah atau mengerjakan. Sehingga muncul sebuah pengertian bahwa kebudayaan adalah segala upaya atau usaha manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam. Secara sederhana, kebudayaan juga dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Ada beberapa teori yang berpendapat bahwa ‘budaya’ merupakan perkembangan dari kata budi dan daya.
2.1.2 Definisi kebudayaan secara konseptual
Koentjaraningrat
“Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.”
Sultan Takdir Alisyahbana
“Kebudayaan adalah manifestasi dan cara berfikir yang dipakai dan mempengaruhi manusia.”

Mangunsarkoro
“Kebudayaan adalah segala yang bersifat hasil kegiatan manusia dalam arti yang seluas-luasnya.”
Mohammad Hatta
“Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.”
Sidi Gazalba
“Kebudayaan adalah cara berfikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segala kegiatan manusia yang membentuk kesatuan sosial dengan suatu ruang dan suatu waktu.”
2.1.3 Definisi kebudayaan secara operasional
Kebudayaan adalah suatu kemajuan dari evolusi atau proses kesejarahan. Kebudayaan juga merupakan suatu yang fungsional dan terkait, konfigurasi kepribadian, dan merupakan suatu kognitif sistem, sistem yang terstruktur, sistem-sistem simbol dan suatu sistem adaptasi.
Secara operasional, kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai keseluruhan sistem pengetahuan, dan hasil karya yang menjadi landasan atau pedoman acuan terwujudnya perilaku manusia serta yang meliputi wujud dari kebudayaan itu sendiri. Jadi kebudayaan memenag memilki banyak definisi yang tetap mengandung satu arti yang sama.




2.1.4 Instrumen variabel konsep teori kebudayaan

Variabel Konsep Teori Dimensi Indikator
K 1.Sistem 1.Organisasi
E 2.Proses
B 3.Struktur
U 4.Cara
D 5.Fungsional
A 2.Evolusi 1.Kemajuan
Y 2.Waktu
A 3.Zaman
A 4.Perkembangan
N 5.Perubahan
3.Sejarah 1.Masa lalu
2.Peristiwa
3.Perubahan
4.Zaman
5.Tokoh

2.2. Teori Masyarakat
2.2.1 Definisi masyarakat secara etimologis
Secara etimologis (cabang ilmu linguistik yang mempelajari asal usul suatu kata) istilah masyarakat berasal dari bahasa Inggris society yang arinya kawan.
2.2.2 Definisi masyarakat secara konseptual
Selo Sumardjan
“Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.”
Karl Marx
“Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.”
Emile Durkheim
“Masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.”
Paul B. Horton dan C. Hunt
“Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut.”
Drs. Sidi Gazalba
“Masyarakat mengutamakan dua perkara. Pertama, interaksi manusia dengan manusia, hidup berkelompok dan dalam masyarakat yang teratur. Kedua, pemelihara interaksi yang teratur dalam kelompok. Masyarakat merupakan pergaulan hidup, pergaulan antara manusia dengan kelompok. Institut masyarakat bertanggungjawab mempertahankan hubungan yang teratur antara individu dengan individu.”
2.2.3 Definisi masyarakat secara operasional
Masyarakat adalah sekelompok pribadi manusia yang hidup bersama-sama dan saling berinteraksi dalam suatu wilayah dan menghasilkan kebudayaan serta seringkali menciptakan kelompok-kelompok organisasi di dalamnya.

2.2.4 Instrumen variabel konsep teori masyarakat

Variabel Konsep Teori Dimensi Indikator
M 1.Wilayah 1.Pemerintahan
A 2.Kekuasaan
S 3.Teritorial
Y 2.Kebudayaan 1.Tradisional
A 2.Modern
R 3.Daerah
A 4.Sosial
K 3.Manusia 1.Makhluk hidup
A 2.Makhluk social
T 3.Pria dan wanita


BAB III
ANALISIS dan PEMBAHASAN
Dalam bab analisis dan pembahasan ini, penulis akan menjabarkan tentang ktujuh unsure kebudayaan secara universal yang dimilki masyarakat Jawa :



3.1 Bahasa Kebudayaan Jawa
Pulau Jawa adalah pulau yang sangat padat penduduknya dan memilki berbagai macam penduduk yang ad di dalamnya dan bahasa merupakan hal yang paling luas digunkana dalam sebuah kebudayaan. Bahasa jawa dibagi menjadi dua klasifikasi dialek. Yaitu dialek sosial dan dialek daerah. Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat
- Dialek Banten
- Dialek Cirebon
- Dialek Tegal
- Dialek Banyumasan
- Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)

Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :
- Dialek Pekalongan
- Dialek Kedu
- Dialek Bagelen
- Dialek Semarang
- Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
- Dialek Blora
- Dialek Surakarta
- Dialek Yogyakarta
- Dialek Madiun

Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :
- Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
- Dialek Surabaya
- Dialek Malang
- Dialek Jombang
3.2 Sistem tekhnologi dan alat produksi kebudayaan Jawa
Alat transportasi
D.I Yogyakarta adalah salah satu kota besar yang terdapat di pulau Jawa dan memiliki alat transportasi yang sangat khas. Untuk sekedar mengenal slaha satu alat transportasi yang ada di jawa, maka kita akan menggali banyak informasi tentang alat transportasi yang berada di D.I Yogyakarta.
Siapa yang tidak kenal dengan kawasan MALIOBORO. Berlokasi di pusat kota Yogyakarta dan menjadi sasaran wisata domestic ataupun manca berkunjung ke malioboro. Berbicara tentang malioboro Yogyakarta tidak akan pernah habisnya. Mulai dari keramaian kawasan malioboro, kawasan tradisional,

Kawasan cagar budaya, hingga transportasi dan barang barang yang diperjual belikan di lokasi malioboro ini. Tas, sepatu, sandal, gelang, souvenir, baju, batik, makanan tradisional, perak, kerajinan kayu, kerajinan bambu, tattoo, dan masih banyak lain yang tersebar dikawasan malioboro. Kawasan cagar budaya ini, merupakan peninggalan dari pemerintahan Hindia-Belanda diawal abad 19, sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan. Nama malioboro sendiri dari kata “Marlborough” seorang anggota kolonial Inggris yang pernah menduduki Yogyakarta tahun 1811 hingga 1816 M. Dalam bahasa Sansekerta Malioboro berarti “karangan bunga”, karena dulunya kawasan MALIOBORO di penuhi akan karangan bunga setiap kraton mengadakan suatu perayaan.

Pakaian
3.3 Sistem mata pencaharian kebudayaan Jawa
Pakaian jawa untuk laki-laki, biasa disebut beskap lengkap atau komplit kalau pakai keris di pinggang. Pakaian itu yang bikin gara-gara. Memang karena tidak biasa dipakai sehari-hari, maka tak banyak yang bisa memakai sendiri. Untuk para wanita pun tidak ketinggalan dengan pakaian adat jawa. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kebaya. Kebaya adalah pakaian adat jawa yang sekarang semakin digemari khalayak banyak. Desian kebaya kini sudah dapat membawa berbagi macam kebebasan berkreasi. Semoga saja kebaya dapat go international dan dikenal oleh masyarakat luar negeri.
.


3.4 Organisasi sosial kebudayaan Jawa
Organisasi sosial yang berasal dari Jawa sangtalah beragam. Tapi satu hal yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa ciri khasnya terletak dalam kemampuan luar biasa kebudayaan Jawa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang datang dari luar, dan dalam banjir itu mempertahankan keasliannya. Kebudayaan Jawa katanya, justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam pencernaan masukan-masukan dari luar.

3.5 Sistem pengetahuan kebudayaan Jawa
JAKARTA – Kebanggaan orang Jawa tampaknya belum pudar. Sebagai salah satu suku di Indonesia dengan populasi paling tinggi sekaligus konon kabarnya paling tua dalam hal peradaban, kebudayaan Jawa tak bisa disangsikan kemajemukannya. Mulai dari aksara kuno, perhitungan tanggal dan bulan, ramal-ramalan sampai dengan peninggalan candi tertua ada di budaya satu ini.
Tiga dari empat pemimpin bangsa ini pun berasal dari Jawa, tidak kurang pula jajaran menteri dan pejabatnya. Bahkan sebelum otonomi daerah dikampanyekan, gubernur di provinsi non-Jawa pun dipegang oleh orang suku Jawa. Bukan ingin mendiskreditkan suku satu ini, tapi demikianlah fakta berbicara.
Kultur Jawa sedemikian erat melekat pada bangsa kita. Bagi orang yang berminat mempelajari seluk beluk budaya Jawa, situs ini akan menjawab lengkap semua rasa ingin tahunya. Dilengkapi dengan search engine, situs yang terdiri atas 26 rubrik ini siap memberi informasi segala hal seputar Jawa.
Pada rubrik ”Sejarah” diungkap kisah kerajaan Jawa pertama sampai dengan perjuangan melawan Belanda dan masuknya Islam. Kisah Demak, Mataram dan Majapahit tidak ketinggalan diulas tuntas. Penggemar sastra yang ingin mempelajari sastra Jawa bisa meng-klik rubrik ini dan akan mendapat informasi tentang kemajuan sastra Jawa dari zaman Pakubuwono sampai Mangkunegaran.

3.6 Sistem religi kebudayaan Jawa
sistem kepercyaan masyarakat Jawa sangatlah beragam dan memilki banyak perbedaan yang tetapi masih berdiri di satu dasar kesatuan. Agama yang dianut umumnya adalah katolik, Kristen. Buddha, hindu, dan Islam.

3.7 Sistem kesenian kebudayaan dan makanan di Jawa
Kerajinan/Industri khas :
• Batik khas Tulungagungan.
• Marmer dan batu Onix, Tulungagung merupakan salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia.
• Kerajinan Kulit hewan, misalnya kerajinan dompet dari kulit, sabuk dari kulit, sandal dari kulit, dll.
• Kerajinan dari ijuk atau dari kulit kelapa, misalnya keset (pembersih kaki), sapu, dll. Kerajinan ini ada di Desa Plosokandang dan sekitarnya.
Makanan khas :
• Tape bakar, biasa ada di pinggir-pinggir jalan Kota Tulungagung.
• Krupuk / Opak rambak.
• Sompel Tulungagung (lontong + lodeh
• Jenang abang, jenang putih, jenang grendul.
• Sambel Tumpang.
• Pecel.









Bab IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Keberagaman dan keuniversalan yang digenggam masyarakat Jawa sangatlah kental dan tak dapat dipungkiri bahwa banyak kebudayaan asing yang berusaha masuk. Tetapi masyarakat Jawa sangat berpegang teguh pada kebudayaan yang telah ada. Kebergaman dan khas dari budaya Jawa itulah yang membuat banyak orang termasuk penulis tertarik unutk menggali lebih dalam lagi tentang budaya tersebuit dan mempelajari serta menambah kebanggaan diri kita sendiri tentang kebudayaan yang ada di Indonesia.
4.2 Saran
Saran penulis unutk para narasumber agar dapat lebih lengkap menyajikan informasi yang dalam tentang kebudayaan Jawa. Karena kebudayaan Jawa adalah salah sau kebidayaan yang patut dibanggakan dan dipelajari lebih dalam dan rinci lagi.





DAFTAR PUSTAKA
http://www.geocities.com/kota_tulungagung/ciri_khas.htm
http://www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg25256.html
http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2008/06/sejarah-bahasa-jawa.html
http://www.indotravelers.com/sumedang/atraksi_adu_domba.html









Lampiran narasumber


JAKARTA – Kebanggaan orang Jawa tampaknya belum pudar. Sebagai salah satu suku di Indonesia dengan populasi paling tinggi sekaligus konon kabarnya paling tua dalam hal peradaban, kebudayaan Jawa tak bisa disangsikan kemajemukannya. Mulai dari aksara kuno, perhitungan tanggal dan bulan, ramal-ramalan sampai dengan peninggalan candi tertua ada di budaya satu ini.
Tiga dari empat pemimpin bangsa ini pun berasal dari Jawa, tidak kurang pula jajaran menteri dan pejabatnya. Bahkan sebelum otonomi daerah dikampanyekan, gubernur di provinsi non-Jawa pun dipegang oleh orang suku Jawa. Bukan ingin mendiskreditkan suku satu ini, tapi demikianlah fakta berbicara.
Kultur Jawa sedemikian erat melekat pada bangsa kita. Kebanggaan pada keragaman kultur Jawa inilah barangkali yang mengilhami dibuatnya www.jawapalace.org. Bagi orang yang berminat mempelajari seluk beluk budaya Jawa, situs ini akan menjawab lengkap semua rasa ingin tahunya. Dilengkapi dengan search engine, situs yang terdiri atas 26 rubrik ini siap memberi informasi segala hal seputar Jawa.
Pada rubrik ”Sejarah” diungkap kisah kerajaan Jawa pertama sampai dengan perjuangan melawan Belanda dan masuknya Islam. Kisah Demak, Mataram dan Majapahit tidak ketinggalan diulas tuntas. Penggemar sastra yang ingin mempelajari sastra Jawa bisa meng-klik rubrik ini dan akan mendapat informasi tentang kemajuan sastra Jawa dari zaman Pakubuwono sampai Mangkunegaran.

Tanpa Fanatisme
Penasaran dengan aksara Hanacaraka? Di sini lengkap segala makna dan cara membaca aksara Jawa kuno ini. Kebanggaan sang pengelola situs sebagai orang Jawa tidak bisa diingkari dengan adanya rubrik ”Tokoh” di mana terdapat nama-nama seperti Gajah Mada, Senopati, Diponegoro, Walisongo, Ken Arok, Soedirman hingga Soekarno. Namun kebanggaan itu bisa sedikit diredam dengan menghadirkan daftar tokoh nasional kini yang tidak semuanya orang Jawa.
Menurut sang pengelola situs, Soeryowicaksono, dalam rubrik ”Visi Kami”, ciri dari orang Jawa itu adalah suka bergotong royong, berbudi, tepo seliro, dan semua yang bagus-bagus. Ia juga bicara mengenai manusia Jawa yang bijak dan terus mengikuti kemajuan global.
Bahkan si pengelola ini memunculkan potret dirinya dalam busana Jawa tulen komplit dengan blangkon. Tapi dalam salah satu petikan kata sambutannya ia menulis: ”Tentunya, dengan tanpa fanatisme sempit dan mengkultuskan budaya sendiri serta meremehkan nilai kebudayaan yang lain, www.jawapalace.org ingin berbagi riwayat dan khasanah tentang ide-ide ”leluhur jawa” dahulu serta perkembangan sekarang hingga mengantarkan perjalanan profil manusia Jawa aru menuju tersambungnya suasana harmoni kebudaya global nanti, dengan memakai wilayah pergaulan adab dunia ke kinian, lantas menyikapi aliran budaya kedepan secara luwes dengan landasan keluhuran budi, melalui info media Website ini”.
Luar biasa, sungguh menyiratkan sifat orang Jawa sejati yang rendah hati, atau kalau dalam bahasa anak muda kini: merendahkan diri tapi meninggikan mutu. Tidak heran ada pameo yang mengatakan bahwa kata jawa sendiri berasal dari singkatan ”jaga wibawa”. Sebuah pameo tipikal seperti halnya padang artinya ”pandai berdagang” atau batak kependekan dari ”banyak taktik”.
Dari tayangan situs ini kami mengharapkan budaya daerah lain misalnya Kutai, Toraja, Batak, Bali, Maluku, Asmat, dan sebagainya bisa membuat situs seperti ini dan mampu ditayangkan secara detil, dan kami bisa me-link sehingga Kebhinekaan Bangsa Indonesia bisa dipahami melalui situs kekinian ini,” demikian penjelasan Soeryo kepada SH saat dihubungi Rabu (17/7).
Sedangkan mengenai pemilihan warna dan desain, menurut Soeryo, disesuaikan dengan latar belakang dan format artikel yang disajikan. Pembuatan desain sekaligus artikel dilakukan tidak oleh Soeryo seorang, melainkan dibantu tim dari berbagai disiplin ilmu.
Pengelola situs yang berdiri sejak Agustus 2001 ini boleh berbangga hati dengan tingginya jumlah pengunjung yang terlihat dari data statistik. Sejak September 2001 hingga hari ini tercatat ada 19.547 orang pengunjung, di mana paling banyak dikunjungi pada bulan November 2001, yakni sebanyak 4525 orang.
Mayoritas pengunjung situs ini adalah orang Jawa tulen. Tidak tanggung-tanggung, banyak di antara mereka yang menggunakan bahasa Jawa kromo inggil. Kalau sudah begini, jelas sekali bahwa kebanggaan sebagai orang Jawa takkan pernah pudar di makan zaman, tidak peduli di dunia maya sekalipun. Fantastis! (SH/merry magdalena)

http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2008/06/sejarah-bahasa-jawa.html (bhasa jawa)
Dialek-Dialek Bahasa Jawa
Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek, yakni :
- Dialek daerah, dan
- Dialek sosial

Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus Nijhoff[1].

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat
- Dialek Banten
- Dialek Cirebon
- Dialek Tegal
- Dialek Banyumasan
- Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)

Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :
- Dialek Pekalongan
- Dialek Kedu
- Dialek Bagelen
- Dialek Semarang
- Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
- Dialek Blora
- Dialek Surakarta
- Dialek Yogyakarta
- Dialek Madiun

Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :
- Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
- Dialek Surabaya
- Dialek Malang
- Dialek Jombang
- Dialek Tengger
- Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)

Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran.
Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut :
- Ngoko
- Ngoko andhap
- Madhya
- Madhyantara
- Kromo
- Kromo Inggil
http://www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg25256.html ( transportasi )
Siapa yang tidak kenal dengan kawasan MALIOBORO. Berlokasi di pusat kota Yogyakarta dan menjadi sasaran wisata domestic ataupun manca berkunjung ke malioboro. Berbicara tentang malioboro Yogyakarta tidak akan pernah habisnya. Mulai dari keramaian kawasan malioboro, kawasan tradisional,

Kawasan cagar budaya, hingga transportasi dan barang barang yang diperjual belikan di lokasi malioboro ini. Tas, sepatu, sandal, gelang, souvenir, baju, batik, makanan tradisional, perak, kerajinan kayu, kerajinan bambu, tattoo, dan masih banyak lain yang tersebar dikawasan malioboro. Kawasan cagar budaya ini, merupakan peninggalan dari pemerintahan Hindia-Belanda diawal abad 19, sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan. Nama malioboro sendiri dari kata “Marlborough” seorang anggota kolonial Inggris yang pernah menduduki Yogyakarta tahun 1811 hingga 1816 M. Dalam bahasa Sansekerta Malioboro berarti “karangan bunga”, karena dulunya kawasan MALIOBORO di penuhi akan karangan bunga setiap kraton mengadakan suatu perayaan.
Perekonomian, sejarah dan budaya seperti Benteng Vendeburg (1765), Gedung Agung (1832 M ), Pasar Bringharjo, dan Hotel garuda menjadi saksi perjalanan panjang Yogyakarta. Hingga sekarang, suasana kenangan masih terasa di kawasan malioboro ini. Perekonomian tradisional menjadi keunikan malioboro, jika anda berkunjung ke Yogyakarta jangan lupakan buah tangan untuk keluarga ataupun kerabat dengan membeli oleh oleh di sepanjang jalan malioboro.
Di sepanjang jalan MALIOBORO anda harus pintar pintar menawar dengan harga yang cukup terjangkau menurut anda, jika anda tidak ingin rugi sebelum berjelajah ke seluruh kawasan maliboro. Gelang misalnya, gelang yang dijual dengan harga Rp 25.000, dapat anda tawar seharga Rp.5000 saja, murah bukan!!. Dengan selisih harga yang cukup bervariasi, anda dapat menikmati variasi benda kerajinan dan aktivitas berbelanja. Mulai dari cara berbelanja ala Yogyakarta khas Malioboro, hingga bentuk-bentuk aktivitas belanja modern dapat anda temukan di kawasan ini




http://www.geocities.com/kota_tulungagung/ciri_khas.htm

Ciri khas Tulungagung dapat dilihat dari kebudayaan, kesenian, bahasa, kerajinan/industri, dan makanan.
Kebudayaan Khas / Tradisi :
• Suroan, dll. Tradisi Temanten kucing. Gambar
• Ulur-ulur. Gambar
• Jamasan Kyai Upas. Gambar
• Peringatan IMLEK. Gambar
Kesenian Khas :
• Jaranan. Gambar
• Tiban. Gambar
• Karawitan/campursari. Gambar
• Reog Tulungagung. Gambar
• Ketoprak, seperti : Ketoprak Siswobudoyo. Gambar
Bahasa Khas : Untuk penggunaan Bahasa Jawa baik itu di Tulungagung, Kediri, Blitar, Trenggalek, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Magetan, serta sekitar Bojonegoro dan Tuban (yang kesemuanya itu temasuk wilayah Jawa Timur bagian barat/kulonan), Bahasa Jawa yang digunakan pada umumnya sama yaitu Bahasa Jawa Alus, sama persis dengan Bahasa Jawa yang biasa digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Misalnya Bahasa jawa ngoko : ora, piye, kowe, kuwi, kae, ben, ujuk-ujuk, di rasakne/dirasakke, bocah, panganane enak tenan, montore penak, lan liyo liyane. Gambar
Untuk pakaian adatnya pun di Tulungagung dan kota-kota tersebut diatas cenderung sama dengan pakaian adat Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gambar
Kerajinan/Industri khas :
• Batik khas Tulungagungan. Gambar
• Marmer dan batu Onix, Tulungagung merupakan salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia. Gambar
• Kerajinan Kulit hewan, misalnya kerajinan dompet dari kulit, sabuk dari kulit, sandal dari kulit, dll. Gambar
• Kerajinan dari ijuk atau dari kulit kelapa, misalnya keset (pembersih kaki), sapu, dll. Kerajinan ini ada di Desa Plosokandang dan sekitarnya. Gambar
Makanan khas :
• Tape bakar, biasa ada di pinggir-pinggir jalan Kota Tulungagung. Gambar
• Krupuk / Opak rambak. Gambar
• Sompel Tulungagung (lontong + lodeh). Gambar
• Jenang abang, jenang putih, jenang grendul. Gambar
• Sambel Tumpang. Gambar
• Pecel. Gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar